Tabloid Posmo

Membuka Mata Batin

Simbol Perlawanan Rakyat Jelata

Menelusuri Sejarah Carok dan Celurit 

Carok dan celurit laksana dua sisi mata uang. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan).

PADA zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Mandor tebu dari Pasuruan ini hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja. Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa hubungannya dengan carok?Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antarpenduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun-tahun.Pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M. Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam. Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat.Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya, lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu.Tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit. Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit.Kondisi semacam itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda.Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda.

Juli 21, 2006 - Posted by | Peristiwa

24 Komentar »

  1. jujur saya bangga di lahirkan di pulau madura, tapi saya malu dengan tingkah dan laku saudara2 yang melakukan kejahatan dengan membawa clurit, karena saya yakin kalau mereka bukan orang asli madura yang selalu menjunjung tinggi harga diri. yang bisa saya sampaikan adalah tolong jangan pernah menganggap/memfonis pelaku kejahatan yang memakai clurit itu selalu orang madura. trimakasih

    Komentar oleh dhany | Juni 2, 2007 | Balas

  2. saya sangat tertarik dengan artikel di atas di mana clurit digunakan pak sakera untuk mengusir penjajah beladatetapi saya kurang setuju bila orang madura menggunakn clurit hanya untuk melampiaskan hasratnya yang kurang beralasan

    Komentar oleh kaka | Juni 8, 2007 | Balas

  3. Redaksi yang terhrmat,

    Saya sangat tertarik dengan budaya carok dengan segala fenomenanya. Lebih tertarik lagi saya dengan Pak Sakera, yang dianggap sebagai pengguna pertama clurit dan pemrakarsa utama budaya carok.

    Apabila tidak keberatan, tolong saya diberi referensi berupa catatan kesejarahan tentang riwayat Pak Sakerah secara rinci da komprehensif. Karena, apa bila tidak ada halangan, saya akan menulis skenario tentang legenda Pak Sakerah dan memfilmkannya dalam format layar lebar.

    Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.

    Hormat saya,

    Rudi hilman
    0817199218
    081315054000

    Komentar oleh rudi hilman | September 11, 2007 | Balas

  4. saya sangat tertarik tentang kepahlawanan pak sakerah, dimanakah saya bisa memperoleh buku atau film (format dvd/vcd)?
    thanx

    Komentar oleh Ma'mun munandar | November 15, 2007 | Balas

  5. Saya sangat tertarik dengan kepahlawanan Pak Sakerah,pertanyaan saya.
    1. Sebenarnya pak sakera itu asli mana, (madura apa pasuruan).
    2. Jelaskan asal usul pak sakera, kenapa pak sakera bisa diagung agungkan di Pulau madura kalau memang beliau dari Pasuruan

    Komentar oleh Rudy | November 19, 2007 | Balas

  6. sebenarnya karakter orang madura dipengaruhi oleh keadaan alam madura,,,tetapi itu pun bukan lantas dijadikan tolak ukur bahwa orang madura itu keras… semua orang bisa keras,,,toh tentunya d sessuaikan dengan kondisi. bedakan antara madura asli dan madura pendalungan dari segi SDM.

    Salam Hormat

    (keturunan panembahan semolo)

    Komentar oleh iwan_shongenep | November 29, 2007 | Balas

  7. sebenarnya aq heran dg orang madura,kenapa kebanyakan orang madura mebagakan carok..
    kan itu perbuatan tercela..dan buruk dimata masarakat lain
    andai aja masarakat madura bisa menghapus teradisi itu
    pasti orang madura lebih dihormati….bukan ditakuti….

    Hormat saya
    putra,(Seh linangkung,JEMBER)

    Komentar oleh m.anang sh | Januari 29, 2008 | Balas

    • assla mualaikum,, saya dri madura
      budaya carok lahir sejak adanya pak sakera
      tpi sebenarnya yng menjadikan orang madura melestarikan carok karena orang madura punya pepatah dari nenek moyang “angoan pote tolang dari pada pote mata”artinya lebih baik mati dari pada menanggung malu dan harga diri terinjak,,
      orang madura tak suka mencari masalah tp apabila buat masalah dengan orang madura insyaallah inna lillah

      Komentar oleh akbar | Juni 21, 2012 | Balas

  8. assalamullaikum untuk saudara2ku sesama muslim. Saya madura pendalungan (jawa-madura), meskipun bukan asli namun saya sangat kecewa melihat peristiwa carok yang selalu berujung dengan kematian, saya harap di masa-masa mendatang tak ada lagi peristiwa catok. Tidak semua orang madura itu kasar, pemarah, jahat, anarkis. dan saya yakin bahwa penjahat2 yang menggunakan clurit bukan suku madura.

    Komentar oleh radit, sumbersari-jember | Maret 29, 2008 | Balas

  9. assalamualaikum,sebenarnya carok itu apasih sy sendiri sebgai org mdr asli tdk begitu tau apa carok itu.yg sy tau carok itu hanyalah perkelahian yg biasanya berujung kematian pad salah seorang pelaku,dan itu sama dgn perkelahian di daerah lain cuma istilahnya saja yg berbeda.jadi menurut sy itu hanya sekedar istilah atau bahasa lain dari perkelahian yg berujung kematian.perlu di ketahui juga bahwa keluarga saya sudah byk yg menjadi pelaku perkelahian/carok tersebut tapi itu bukan tradisi kami melainkan itu hanya karena kami diperbudak nafsu dan dendam.dan terus terang kami sudah bosan dgn semua itu.dan kami bukannya tdk punya hati,tp itu konsekuensi yg hrs kami tanggung.lebih baik jadi org sabar.wassalam

    Komentar oleh faisal | Mei 22, 2008 | Balas

  10. yang sy tau carok itu perkelahian satu lwan satu yang menggunakan sajam/clurit dan tidak ada yang boleh mengganggu pelaksanaan carok tersebut trus minta persetujuan keluarganya, kata kakek sy pak sakera itu asli madura yang di lahirhkan di desa daerah sampang tpi sy tidak tau kanpa ada di pasuruan…….

    Komentar oleh dian di sampang | Mei 23, 2008 | Balas

  11. saya merasa bangga menjadi manusia madura!

    Komentar oleh joe | Januari 19, 2009 | Balas

  12. Assalamualaikum Wr.Wb
    Orang Madura biasanya identik dengan santrinya,saya eeng orang sumenep(kate babe,gue turunan keraton sumenep) kerja di Jababeka-Bekasi,kakak saya dulu tahun 80-90an kuliah di ITB bandung,teman-temannya dari luar madura berpendapat orang madura orang yg taat beragama. Namun,image ini hilang dengan adanya kasus di Sampit dulu. Orang madura menurut saya mempunyai karakter “Fanatik”.Nah fanatik inilah yg bisa menjadi bumerang bagi mereka.Orang madura kalo sudah percaya pada seseorang dan menganggap seseorang itu baik,maka jika orang yg mereka yg difanatik-an ini mempunyai masalah,orang madura rela jiwa raganya dikorbankan untuknya(yg difanatikkan itu). Nah, kadang kefanatikannya ini diperuntukkan buat orang yg salah(maksudnya orang yg berhati busuk) sehingga gampanglah orang madura diprovokasi. Jadi menurut saya,orang madura yg memiliki jiwa pengabdi harus pinter-pinter memilah dan memilih siapa orang-orang yg boleh difanatikkannya itu.Seperti:Nabi Muhammad,Sayyidina Ali,etc.
    Bye..

    Komentar oleh eeng | Februari 28, 2009 | Balas

  13. Sejarah adalah masa lampau. Tetapi sejarah akan bisa valid & benar apabila ada waktu, tempat, subyek serta bukti-bukti pendukung. Apakah sejarah carok tersebut bisa diyakini

    Komentar oleh Aliyanto | Agustus 21, 2009 | Balas

  14. menurut saya annggapan orang orang bahwa orang madura itu tdk tau sopan bicara keras cerai carok,itu tdk benar,alias salah,mungkin sebagian orang,dan suku apapun dimanapun pasti ada yg keras bukan hanya di madurakan,di madura tdk sedikit orang yg ramah,lemah lembut,sopan santun/baik budi pekerti

    Komentar oleh m.akhyar | Januari 16, 2010 | Balas

  15. teruskan artikel yang senada dengan perkembangan madura dan sekitarnya bisa perlu dengan mistisnya.

    Komentar oleh joko | Maret 8, 2010 | Balas

  16. mngatakan orang madura tokang tellak?(cerai)itu adalah kta2 yg bnar tapi salah.brkata kasar?itu benar tp kurang tepat krn yg mndegarkan adalah orng yg bkn dr madura.suara keras bukan berarti berwatak keras.sy lahir di pulau garam tanpa campuran.memng orang yg diluar madura brkata bhw orang madura itu keras.itu karna yg mengatakn adalah orang yang bertemu dengan orang madura yg memang logtnya kasar.atau mungkin juga brmasalh dngan orang trsebut.sy akui untuk urusan perselingkuhan memang benar lbh baik putih tulang dari pada putih mata.ada juga msyarakat jawa yg mengatakn bahwa orang madura bisa lbh lembut/halus apa bila mereka diperlakukan lmbut/halus.tp sebaliknya.knp demikian itu karna mereka sudah mengenal orang madurA.
    pngalaman sy sndr awaktu ngmpong odi’ di malang-jatim.mreka smua ramah tamah dn mngatakn bhw “ternyata tdak smua orang madura itu kasar.kbayakan dr orang madura adalah mengalah untuk menang.ada juga dari mereka yg lbh banyak diam memperhatikan mmbiarkan dirinya tertidas untuk beberapa saat untuk menunggu prubahan.tp jk msh tetap maka lbh baik putih tuklang dari pada putih mata pasti akan di lakukan dan tanpa banya berkomentar lagi.istilah carok bagi saya itu penting tp akan lbh baik lagi apa bila di gunakan pada orang yng mmng memaksa kita.sy tidak akan menggaruk jika sy tidak gatal.carok adalah untuk membela diri bukan untuk membunuh saudara sendiri.mskipun sy sebagai orang madura asli tp sy tidak pernah suka dengan carok yg menggunakan clurit.gak tau knp..memegangnya sj sy sudah ngeri..sy lbh suka carok dengan hati itu sj…saporanh se rajeh dhe’ sadhejenah teretan madureh…kule oereng mekkasen ta’ dhujen acarok..kor anak binih kauleh jhe’lighulih apa pole oereng sepponah kauleh…ta’ langkong saos tretan…

    Komentar oleh sf | Juni 12, 2010 | Balas

  17. […] PADA zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Mandor tebu dari Pasuruan ini hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja. Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa hubungannya dengan carok?Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antarpenduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun-tahun.Pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M. Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam. Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat.Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya, lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu.Tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit. Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit.Kondisi semacam itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda.Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda. Simbol Perlawanan Rakyat Jelata � Tabloid Posmo […]

    Ping balik oleh carok « keada'an romadhon tahun ini | Agustus 26, 2010 | Balas

  18. […] PADA era Cakraningrat, Joko Tole & Panembahan Semolo di Madura, tdk tau kebudayaan tersebut. Budaya yg terdapat saat itu ialah menghabisi org scr kesatria dgn make golok ato keris. Senjata celurit mulai mencuat pd era legenda Pak Sakera. Mandor tebu dr Pasuruan ini nyaris tdk tau ninggalin celurit tiap pergi ke kebun utk memonitor para pekerja. Celurit utk Sakera ialah lambang perlawanan rakyat jelata. Lantas apa korelasinya dgn carok?Carok dalem bahasa Kawi usang artinya perkelahian. Biasanya mengaitkan 2 org ato 2 famili besar. Bahkan antarpenduduk seonggok desa di Bangkalan, Sampang, & Pamekasan. Pemicu dr carok ini berbentuk perebutan posisi di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa pula dendam turun-temurun slm bertahun-tahun.Pada abad ke-12 M, era kerajaan Madura saat di pimpin Prabu Cakraningrat & abad 14 di dasar pemerintahan Joko Tole, nama carok belon dikenal. Bahkan pd masa pemerintahan Penembahan Semolo, putera dr Bindara Saud putera Sunan Kudus di abad ke-17 M tdk terdapat nama carok.Munculnya kebudayaan carok di pulau Madura bermula pd era penjajahan Belanda, yaitu pd abad ke-18 M. Setelah Pak Sakerah tertangkap & di hukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang dasar mulai nekat melakukan perlawanan pd penindas. Senjatanya ialah celurit. Saat begitulah mencuat keberanian melakukan perlawanan.Namun, pd masa itu mereka tdk menyadari, andai dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dgn golongan famili Blater (jagoan) yg jadi kaki tangan penjajah Belanda, yg pula antar bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yg seringkali melakukan carok pd masa itu. Pada saat carok mereka tdk make senjata golok ato keris sebagaimana yg di lakukan masyarakat Madura era dahulu, hendak tetapi make celurit sbg senjata andalannya.Senjata celurit ini berniat dikasihkan Belanda utk bangsa blater dgn tujuan ngerusak citra Pak Sakera sbg empunya sah senjata tersebut. Karena dia ialah sorangan pemberontak dr komunitas santri & sorangan muslim yg patuh menjalankan agama Islam. Celurit di pakai Sakera sbg lambang perlawanan rakyat jelata thd penjajah Belanda. Sedangkan utk Belanda, celurit di simbolkan sbg senjata para jagoan & penjahat.Upaya Belanda tsb rupanya sukses merasuki segelintir masyarakat Madura & jadi filsafat hidupnya. Bahwa andai terdapat persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, & sbg-nya slalu make kebijaksanaan dgn jalan carok. Alasannya ialah demi menjunjung harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lbh bagus putih tulang. Artinya, lbh bagus mati berkalang tanah daripada merasakan malu.Tidak bingung jika kejadian persoalan perzinahan & perebutan tanah di Madura sekalipun pd turunan org Madura di Jawa & Kalimantan slalu di selesain dgn jalan carok perorangan sekalipun scr massal. Senjata yg di pakai slalu celurit. Begitu pula saat melakukan perbuatan kejahatan, pula make celurit.Kondisi sejenis itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi mengecap org Madura senang carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, senang cerai, tdk tau sopan santun, & andai menghabisi org make celurit. Padahal sesungguhnya tdk smua masyarakat Madura demikian.Masyarakat Madura yg mempunyai sikap halus, tau sopan santun, berbicara lembut, tdk senang bercerai, tdk senang bertengkar, gapake make senjata celurit, & sbg-nya ialah dr komunitas masyarakat santri. Mereka ini turunan orang-orang yg era dulu memiliki tujuan menentang penjajah Belanda.Setelah segini thn penjajah Belanda ninggalin pulau Madura, kebudayaan carok & make celurit utk menghabisi lawannya msh tetep ada, bagus itu di Bangkalan, Sampang, sekalipun Pamekasan. Mereka menyangka kebudayaan tsb hsl buatan leluhurnya, tdk nyadari andai hsl manipulasi penjajah Belanda. Simbol Perlawanan masyarakat Jelata ? Tabloid Posmo […]

    Ping balik oleh carok | pisang goreng | April 23, 2012 | Balas

  19. Madura sangat fenomenal.Saya amatlah bangga menjadi bagian di dalamnya.Namun, kebanggaan saya tidak pada apa yang orang sangkakan terhadap madura dengan penomena caroknya tapi saya sampaikan bahwa orang madura juga punya keadaan sikap dan kbiasaan positif dalam hal membangun aspek ekonominya, orang madura bukanlah pribadi-pribadi pekerja keras melainkan adalah mental pekerja giat,ulet dan terampil dalam membaca peluang bisnis, hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya saudgar kaya di berbagai pulau di negeri ini yang berasal dari madura yang salah satu sejarah mencatatnya pada sosok sakerah yang kelahiran madura yang kemudian hari merantau ke tanah pasuruan yang juga bersuku pendalungan Madura.Di pasuruan itulah sakerah lebih dikenal dengan mandor atau lebih tepatnya sebagai pengawas lapangan.By Hasan-Kwanyar

    Komentar oleh dzu kun | Mei 25, 2012 | Balas

  20. […] PADA zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Mandor tebu dari Pasuruan ini hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja. Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa hubungannya dengan carok?Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antarpenduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun-tahun.Pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M. Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam. Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat.Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya, lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu.Tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit. Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit.Kondisi semacam itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda.Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda. Simbol Perlawanan Rakyat Jelata � Tabloid Posmo […]

    Ping balik oleh MADURACORNER.com | Berita Madura Sebenarnya | Desember 25, 2013 | Balas

  21. saya sebagai orang madura asli tidak merasa bangga dengan legenda sakera, carok dan clurit, apalagi carok yang disebabkan katanya demi harga diri atau masalah perempuan. karena menurut analisa saya berdasarkan sejarah semua itu sengaja dibuat belanda agar suku madura dilecehkan dan dijauhi oleh suku2 yang lain. mengingat madura jaman dulu dikenal mempunyai pasukan perang yang tangguh bagaikan pasukan sparta dr yunani yang hanya dengan 300 pasukan ( hanya pasukan pengawal raja ) sempat membuat kalang kabut pasukan perang persia yang jumlahnya puluhan ribu. begitu juga dengan pasukan perang kerajaan madura yang jumlahnya hanya ribuan sempat bikin kocar kacir pasukan kerajaan mataram pimpinan sultan agung yang jumlahnya puluhan ribu. perlawanan kedua saat jaman trunojoyo mengadakan perlawanan kepada mataram pimpinan amangkurat I, trunojoyo sempat menaklukkannya sehingga amangkurat I terpaksa melarikan diri ke tegal arum. perlawanan ketiga saat jaman cakraningrat IV, matarampun sempat kewalahan terhadap perlawanan2 yang dilakukan cakraningrat iv. sehingga mataram mengadakan pendekatan kekeluargaan dengan diambil menantunya cakraningrat iv oleh raja mataram amangkurat iv yang pro belanda. walaupun cakraningrat iv sudah diambil menantu tapi perlawanan tidak terhenti. yang akhirnya mataram dan belanda mengerahkan pasukan besar2an dan berhasil menghancurkan pasukan cakraningrat iv. dan cakraningrat iv dibuang ke afrika selatan. yang kuburannya baru sekarang ditemukan oleh yusril isa mahendra atas petunjuk nelson mandela. belanda sengaja menonjolkan madura hanya jago carok ( bukan jago perang ) dan sakera yang hanya mandor tebu dan bukan dr madura melainkan pasuruan. mandor tebu sebenarnya hanya jagoan/preman kampung yang dijadikan centeng belanda untuk menyiksa rakyat.. kenapa kok malah se olah2 jadi pahlawan.. preman kok jadi pahlawan. sedangkan yang sebenarnya pahlawan spt trunojoyo dianggap pemberontak. dan satu lagi kebohongan belanda, yang katanya jenasah cakraningrat iv dipindah ke air mata ibu di arosbaya ternyata ditemukan di pulau robben tempat nelson mandela dipenjara selama 29 tahun. dan kuburannya dirawat dan dikeramatkan oleh orang afrika selatan yang beragama islam. karena dianggap beliau adalah penyebar agama islam pertama di afrika selatan.

    Komentar oleh joko | Maret 25, 2014 | Balas

  22. kadang kita tidak menyadari bahwa kita di bodohi oleh asing sejak leluhur maka dari itu untuk orang yang sudah tau yang sebenarnya ingatkanlah masyarakat karena saya pribadi prihatin melihat hal itu , jujur waktu tahun 2012 silam saya bertemu dengan teman yang asalnya dari papua yang kuliah di UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA mereka menganggap madura orangnya keras dan selalu di kwatirkan oleh orang rumahnya sehingga mereka takut untuk berkenalan dengan orang madura takut salah , tapi ketika bertemu dengan saya ternyata semuanya tidak sama dan dia cukup senang bersahabat dengan saya , begitupun sebaliknya.

    Komentar oleh riyanmarcushmipane | Mei 4, 2014 | Balas

  23. saya sama orang dayak cocok2 aja, tapi pernah tersinggung sama orang madura, di sabar2in aja dripada ntar jadi perang batak-madura, kesian dah banyak di bantai di sampit.

    Komentar oleh ucok@yahoo.com | Mei 29, 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: